Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2009

VALENTINE'S DAY; PENDANGKALAN MAKNA CINTA DALAM SEJARAH YANG SAMAR

Gambar
  Gadis itu tersenyum merekah dengan wajah yang merona, saat ia menerima kiriman bingkisan hati yang dibalut dengan ikatan pita pink. Bingkisan yang telah ia nanti-nantikan selama setahun dari sang kekasih tercinta. Gadis itu terus saja memandangi bingkisan hati itu dengan bahagia seolah ia sedang berhadapan dengan wajah laki-laki idamannya itu. Dengan jantung yang berdebar-debar bahagia, perlahan kedua tangannya membuka bingkisan hati kekasihnya. Begitu bingkisan hati itu berhasil ia buka  “..oh, so sweet..!”,  bisiknya. Di dalam bingkisan hati itu ada bongkahan kue coklat yang juga berbentuk hati dilelatakkan disebelah bunya mawar merah hati nan wangi yang lagi mekar. Secarik kartu ucapan minimalis berwarna pink juga diletakkan disitu bertuliskan  “..Be My Valentine..!” . Gadis itu seolah tak kuasa membendung perasaan bahagia, sekejab ia larut di dalamnya. Yach..begitulah kira-kira perasaan jutaan gadis di dunia ini saat tanggal 14 Feb...

SAJAK-SAJAKKU

Gambar
Anakku…! Anakku…! Bantu aku mencari ibumu Rahim yang melahirkanmu Perempuan suci yang menyusuimu Perempuan tempat engkau mengadu Anakku…! Aku telah merawatmu 25 tahun sebelum engkau lahir Jangan kau sia-siakan itu, Jangan kau kecewakan aku. Anakku…! Kutemani engkau jalan-jalan Ketaman, kegunung, ke kota Ketempat pelacuran, ke masjid Ke tempat sampah, ke hotel dan kantor-kantor Kutemani engkau menemani banyak orang Dari pengemis sampai pejabat Dari orator sampai koruptor Dari orang awam sampai cendekiawan Dari orang bejat sampai orang bijak Dari orang biadab sampai orang beradab Kutemani engkau melihat fenomena Tangisan dan canda tawa, pertemuan dan perpisahan Perdamaian dan peperangan, kedamaian dan bencana Pergantian siang dan malampun kita berdua Anakku…! Telah banyak yang engkau saksikan Ingat Tuhanmu, ingat orang tuamu dan keluargamu Ingat orang miskin, ingat orang-orang tertindas Jangan lanjutkan kejahatan itu Ingatlah..ingatlah pesanku Jangan kau kecewakaan aku, anakku.! Tapi ana...

MASA DEPAN DEMOKRASI INDONESIA

Gambar
Sepintas, ketika membaca judul tulisan ini terkesan bahwa ada semacam keraguan terhadap demokrasi sehingga terbesit pertanyaan dibenak kita apakah demokrasi sebuah pilihan yang tepat bagi bangsa ini. Ini merupakan pertanyaan yang menggugat keyakinan kelompok pro demokrasi bahawa demokrasi mampu membawa bangsa ini pada tatanan yang damai dan sejahtera. Tak salah jikalau pertanyaan itu lahir ditengah para elit politik yang dengan bangga dan lantangnya meneriakkan bahwa Negara kita adalah Negara demokratis sementara fenomena tidak demokratis ada dimana-mana bahkan tak jarang para elit yang mempertontonkannya. Namun disisi lain, dengan melihat judul tulisan ini pula, justru terkesan memberikan penegasan terhadap keyakinan bahwa demokrasi mampu mewujudkan harapan dan cita-cita rakyat. Harapan besar itu muncul begitu kuat setelah beberapa kekuatan di Indonesia terkonsolidasi untuk kemudian bersepakat menjatuhkan rezin orde baru Soeharto yang otoriter pada tahun 1998. Masuknya babakan sejarah...

SETIAP TEMPAT ADALAH SEKOLAH

Gambar
Ki Hajar Dewantara Tulisan ini sebenarnya saya buat setelah peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) 2 Mei 2007.   Hanya saja tulisan baru dapat saya posting ke blog ini karena tulisan ini saya buat hampir 2 tahun sebelum blog ini ada.   Namun setidaknya isu tulisan ini belumlah usang. Bahkan saya menilai masih cukup representatif untuk merefleksikan wajah pendidikan kita hari ini.   Berikut tulisan saya itu.. Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) 2 Mei 2007 baru saja kita lewati. Tidak seperti peringatan hari ulang tahun seorang remaja yang dirayakan penuh dengan suka cita dan pesta pora yang meriah, hari Pendidikan Nasional dirayakan dengan demontrasi besar-besaran disetiap pelosok tanah air Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan dari berbagai kalangan masyarakat. Isu demonstrasi yang diangkatpun tidak jauh berbeda yakni seputar anggaran pendidikan, tenaga pengajar, berbagai bentuk penyelewengan pendidikan, penolakan terhadap Badan Hukum Pend...